Pangandaran — Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta keterampilan melakukan observasi secara langsung, santri kelas XI Mu’allimin Pesantren Persis 109 Kujang melaksanakan kegiatan penelitian dan pembelajaran luar kelas di Kabupaten Pangandaran.
Kegiatan ini menjadi salah satu metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada santri untuk menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan kondisi nyata di lapangan. Selain itu, kegiatan penelitian juga menjadi bagian dari peminatan antarmata pelajaran dan jurusan, khususnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Dalam kegiatan tersebut, para santri mengunjungi tiga lokasi yang memiliki karakteristik dan objek pembelajaran berbeda, yaitu Aquarium Indonesia, Museum Nyamuk, dan tempat pelelangan ikan. Ketiga lokasi tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman belajar yang beragam sekaligus memperluas wawasan santri mengenai lingkungan, kehidupan sosial, ekonomi, serta fenomena yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Di Aquarium Indonesia, santri memperoleh kesempatan untuk mengamati berbagai jenis biota perairan dan mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati laut. Kegiatan observasi ini memberikan ruang bagi santri peminatan IPA untuk mengembangkan rasa ingin tahu terhadap kehidupan organisme, ekosistem perairan, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Selanjutnya, kunjungan ke Museum Nyamuk memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak kalah menarik. Santri dapat mengenal berbagai jenis nyamuk, siklus hidup, serta kaitannya dengan kesehatan dan lingkungan. Informasi yang diperoleh kemudian menjadi bahan bagi santri untuk mengembangkan pertanyaan dan gagasan penelitian berdasarkan hasil pengamatan mereka.
Sementara itu, kunjungan ke pelelangan ikan memberikan perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Santri dapat mengamati secara langsung aktivitas perdagangan hasil laut, interaksi antara nelayan dan pembeli, serta bagaimana hasil tangkapan laut menjadi bagian dari roda perekonomian masyarakat Pangandaran. Pengalaman tersebut menjadi sarana pembelajaran yang relevan bagi santri peminatan IPS.
Melalui rangkaian observasi tersebut, santri tidak hanya dituntut untuk melihat dan mencatat apa yang mereka temukan, tetapi juga mengolah informasi, mengidentifikasi permasalahan, menyusun pertanyaan, serta menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan. Dengan demikian, penelitian menjadi sarana untuk melatih nalar kritis, kemampuan analisis, kreativitas, komunikasi, dan kerja sama.
Kegiatan pembelajaran di luar kelas ini diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi santri. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga belajar memahami berbagai fenomena secara langsung melalui proses observasi dan penelitian.
Dengan semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi, santri kelas XI Mu’allimin Pesantren Persis 109 Kujang menjadikan Pangandaran sebagai ruang belajar yang luas. Dari biota laut hingga kehidupan masyarakat pesisir, setiap objek yang diamati menjadi bagian dari proses untuk mengasah nalar, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kreativitas santri dalam memahami dunia di sekitarnya.