Kujang, 26 Juli 2025– Pesantren Persatuan Islam 109 Kujang baru-baru ini melaksanakan sosialisasi intensif mengenai Tata Tertib (Tatib) pesantren kepada seluruh santri baru. Kegiatan ini bukan hanya sekadar pembacaan daftar larangan, melainkan penanaman pemahaman bahwa Tatib adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter dan integritas seorang kader.
Sosialisasi yang diadakan di Aula Ibnu Abbas ini dihadiri oleh jajaran pimpinan pesantren, Mudir Mu'allimin sekaligus MPS .
Mudir Mu'allimin, Ust. Azis Hakim, S.Ag sekaligus MPS], menjelaskan bahwa Tatib di Pesantren Persis 109 Kujang harus dipandang sebagai kurikulum non-formal yang wajib dijalankan 24 jam sehari.
"Kita tidak hanya mengajarkan fiqih dan tafsir di kelas. Ilmu yang paling fundamental adalah disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab—itulah isi dari Tata Tertib ini. Jika santri disiplin melaksanakan shalat berjamaah tepat waktu, ia akan belajar menghargai waktu. Jika ia jujur dalam ujian, ia akan terhindar dari perilaku curang dalam kehidupan nyata," ujarnya.
Beberapa poin Tatib yang ditekankan dalam sosialisasi ini mencakup:
Kedisiplinan Waktu: Wajib mengikuti jadwal ibadah, belajar, dan tidur secara ketat.
Etika Berpakaian dan Berinteraksi: Menjaga izzah (kehormatan) sebagai pelajar Islam, termasuk larangan membawa alat komunikasi tanpa izin dan menjaga pergaulan.
Kebersihan dan Kesehatan: Tanggung jawab individu terhadap kebersihan kamar, asrama, dan lingkungan pesantren.
Dalam sosialisasi ini, peran PDS disorot sebagai garda terdepan dalam penegakan Tatib. Mereka tidak hanya bertindak sebagai penegak, tetapi juga sebagai teladan dan pembimbing bagi santri baru.
M. Caesar Tsabit Hermawan (Ketua PD IPP Ciamis Banjar terpilih, yang juga merupakan santri di Kujang) turut memberikan motivasi. Ia menyampaikan bahwa Tatib harus diinternalisasi, bukan dipatuhi karena takut hukuman.
"Jika kita memahami tujuan dari setiap aturan, maka mematuhinya akan menjadi kebiasaan baik (habit) yang membentuk karakter kita. Misalnya, mengapa kita dilarang begadang? Agar kita bisa bangun Qiyamullail dan belajar di waktu fajar. Semua kembali pada kepentingan kita sendiri untuk menjadi kader yang kuat," tegasnya.
Pimpinan Pesantren menegaskan kembali bahwa tujuan akhir dari penegakan Tatib adalah mempersiapkan lulusan yang memiliki integritas tinggi dan siap menjadi ulama muta'ammiq serta muballigh mujahid.
"Kami tidak hanya ingin mencetak orang pintar, tetapi orang baik yang memiliki himmah (semangat tinggi) dan amanah. Ketaatan terhadap Tatib hari ini adalah latihan kalian untuk ketaatan pada syariat Allah dan peraturan negara di masa depan," pungkas Mudir 'Aam.
Dengan pemahaman yang komprehensif ini, Pesantren Persis 109 Kujang berharap para santri baru tidak melihat Tata Tertib sebagai beban, melainkan sebagai peta jalan yang membimbing mereka menuju kesuksesan dunia dan akhirat.